Jumat, 07 September 2018

Sebuah pengakuan kesalahan

Teruntuk mas tadi yang duduk disebelah saya pas didalam kereta perjalanan pulang

Saya akan sangat bersalah jika mengetahui masnya tadi orang pemalang dan tentunya saya akan sangat bersukur jika masnya itu bukan orang pemalang.
Sebelumnya, saya sudah mewanti-wanti untuk bertanya terlebih dahulu masnya itu orang mana, bukan ingin ku ketahui dia tinggal dimana, namun untuk ku ketahui dia akan turun dimana, sehingga jika masnya turun di stasiun sebelum saya turun, di pekalongan misalnya, saya akan secara otomatis berdiri dan mempersilakan masnya itu lewat terlebih dahulu, berhubung masnya tadi duduk di tepi jendela. Jadi mau tidak mau saya harus berdiri dan menepi terlebih dahulu agar yang duduk di tepi jendela bisa masuk atau keluar dari tempat duduk. Namun gengsi ku lebih dominan sehingga saya tidak jadi bertanya. Saya pun kemudian menyempatkan untuk tidur berhubung saya naik kereta jam pagi, jadi pasti mataku masih mengantuk, biarlah jika ada yang bilang tidak boleh tidur selepas subuh. Namun mataku tiapkali naik kereta jam berapapun pasti mengantuk entah kenapa.
Saya tertidur mulai dari kereta jalan. Ya, secepat itu saya tidur, namun ketika sudah sampai di stasiun pekalongan saya terbangun dan melihat sebentar ke samping, si masnya ternyata tak tidur sepertinya. Awalnya saya berfikir masnya mungkin turun di staisun pekalongan sehingga tak tidur, namun dugaan saya salah, tak ada pergerakan sama sekali, mungkin di pemalang sama dengan saya turun, pikirku kemudian. Dan saya ketika sudah sampai di stasiun pekalongan saya tak lagi menyempatkan tidur, kenapa? Karena saya tiap kali pulang dengan kereta selalu berfikir jika saya melanjutkan tidur saya dan kemudian ketika di stasiun pemalang ternyata saya tertidur lantas terlewatkan, akan repot jadinya :(

Lanjut cerita, saya kemudian terjaga dari stasiun pekalongan dan masnya tadi lambat laun mulai mengantuk sepertinya dan mulailah tertidur.. ketika hampir mendekati stasiun pemalang dan sudah terdengar suara "sebentar lagi kereta api KALIGUNG, akan tiba di stasiun PEMALANG...." saya mulai bersiap, namun apa yang terjadi, masnya tadi ternyata belum juga bangun. Saya lantas bingung dengan sangat, ingin rasanya saya menggoncang tubuhnya 🙄 kenapa terlelap sekali, padahal suara petugas yang menyampaikan pemberhentian kereta sudah kencang, dan saya kemudian memanggilnya "mas, mas, mas" ahh gagal, suaraku terlalu lemah mungkin sehingga lenyap tertelan angin atau karna masnya tidur terlalu lelap? Arrhh gimana ini, saya tak berani tentunya menggoncang bagian lengannya.
Lantas dengan membawa rasa bersalah saya beranjak keluar meninggalkan masnya tadi yang tertidur.

Saya tentunya terus berpikir tentang kesalahan saya barusan, sampai sekarang ku tuliskan ini. Kenapa dari awal tidak saya tanyakan saja jika kejadiannya akan demikian. Jika masnya tadi orang pemalang 🙄 dan tadi tertidur sudah saya panggil tak bangun juga, kemudian kereta jalan menuju tegal.. heuheuu... kasian rek 😥 saya berharap bahwa masnya tadi bukan orang pemalang saja, semoga saja orang tegal atau brebes 😫

Heuheu, Sungguh maafkan saya 🙏

Jumat, 24 Agustus 2018

Hal yang tak terduga

Masa-masa dimana aku mulai berjualan buku adalah berkesenangan, ya siapa yang tidak senang jika nanti setidaknya ada sedikit masukan agar keuangan tidak selalu berkurang. Namun disaat aku berada di puncak kesenangan tersebut datang suatu masalah yang sebelumnya aku tak menduga sama sekali. Tiba-tiba leptop yang suatu malam masih dapat dinyalakan dengan baik, paginya ia mendadak mati tanpa kabar sebelumnya. Tentu hal itu membuatku panik dan sempat aku pusing dibuatnya. Aku sempat mengumpat sendiri dalam hati, kenapa ini bisa terjadi, baru saja aku membuka lapak bukuku dan aku tentu belum mendapatkan apa-apa darinya dan kenapa leptop sudah rusak begitu saja, atau ini karena masalah aku yang berjualan buku, kalau seperti ini lebih baik aku tak berjualan saja

Ahh.. kenapa aku bisa mengumpat seperti itu, dan setelah menyadari aku sungguh menyesal telah mengumpat demikian. Aku kemudian mulai memutar cara berpikirku, siapa yang tahu jalan cerita kehidupan manusia selain Dia yang mengetahui segala kehidupan. Coba saja ketika aku tak berjualan sebelum leptop rusak, dan tiba-tiba leptop rusak dan aku pun mungkin akan memperbaikinya dengan embel-embel uang dari orang tua lah yang menanggung semua. Namun dengan aku yang sudah berjualan alurnya pun mungkin akan sama, leptop akan tetap mati seperti sekarang ini dan aku harus membayar biaya servicenya dengan uang orang tua, namun ada sedikit hal lain mungkin dimana biaya service yang dikeluarkan mungkin nantinya akan tergantikan walau tidak secara langsung. Dan aku pun berpikir setidaknya aku dapat menutupi biaya itu dari hasil aku berjualan buku daripada aku yang tidak dapat berbuat apa-apa ketika aku tak berjualan. Bukankah demikian?

Ahh. Aku sunggu menyesal telah mengumpat yang tidak-tidak sebelumnya

Teruntuk diriku dan mungkin bagi kalian juga. Ambil hikmah dari setiap kejadian yang buruk sekalipun. Bahwasanya setiap hal yang dianggap buruk oleh mata pasti ada suatu percikan hikmah disekitarnya. Hanya saja kita harus menemukan kesadaran diri didalamnya agar dapat melihat hikmah yang mungkin masih tersembunyi

Dan kau yang disana semoga kau baik-baik saja, semoga kau lekas pulih pula, bawalah kabar gembira untukku, aku telah menunggumu
Aku rindu sangat :(

Rabu, 22 Agustus 2018

Kenapa Buku?

Aku berhasrat suatu saat jika aku tidak sempat memberi nilai-nilai kebaikan serta kehidupan pada keluarga atau anak cucu kelak, setidaknya penulis dari buku-lah yang akan memberikannya. Namun mungkin tak semua buku mengandung nilai kehidupan, akan tetapi pasti setiap penulis mempunyai caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Tinggal pembacanya saja yang pandai memilih dan memilah buku yang kelak akan diwariskan. Selanjutnya untuk sampai pada tahap keluarga agar dapat menemukan nilai kehidupan dalam buku tentunya ia harus mau membaca. Mereka mau tak mau harus dijejali dengan buku.


Bagaimana caranya agar ia mau untuk membaca buku?

Aku baru sempat memulainya dengan membaca sedikit buku dari banyaknya penulis yang kerap menghasilkan bermacam buku. Bodohnya aku baru sadar waktu sekarang ini, terkadang aku sempat menyesali akan waktu luang yang telah terlewatkan begitu saja. Namun sekarang aku tak perlu menyesalinya lagi, tidak perlu ada gelisah dalam hati, aku cukup berpandang kedepan dengan tidak melupakan segala kesalahan yang telah kuperbuat agar tak terulang kembali. Aku kelak harus menyakinkan kepada mereka bahwa dengan membaca buku tidak ada kerugian sama sekali. Justru didalam buku tak sedikit yang mengandung makna, hikmah, dan pelajaran yang dapat dipetik untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin dengan demikian kelak mereka akan tertarik dengan apa yang telah kubaca dan mungkin selanjutnya mereka terikat dengan buku. Harapanku begitu

Itu hanya anggapanku, barangkali ada yang berpendapat beda tak apa.

Oh iya aku pernah berimajinasi bahwa kelak aku akan membuat perpus pribadi. Doakan semoga terwujud. Aamiin 🙏
Atau kau mau bantu mewujudkannya? 😅

Minggu, 01 April 2018

Review "Film kisah wali Allah Rabiah Al - Adawiyah"

Seperti yang sudah aku janjikan kala itu kepadamu kawan, (mungkin hanya beberapa yang mengetahuinya)

Malam sudah hampir larut dan sunyi kian menyeru, aku masih saja tidak berfikir untuk memenggal sebuah film yang sedang ku tonton. Biarlah mata ini sudah kantuk, tapi tidak dengan jiwaku yang sedang menghayati cinta didalam kisahnya, film ini memang sudah membuatku hanyut sampai larut malam untuk mengikuti alurnya. Tersadar aku pada menit terakhir ternyata aku belum mampu menempatkan kesempurnaan menonton film ini layaknya menonton film di bioskop yang harus menempatkan ketepatan waktunya. Aku menonton film ini tidaklah seperti di bioskop, yang ada ialah aku memperpanjang jangka waktuku dalam menonton. Film ini disajikan kurang lebih 2 jam, sedangkan aku baru terselesaikan 5 jam. Iya 5 jam tanpa beranjak pergi, namun aku selingi dengan "tegukan air" untuk mencerna otak dan jiwaku untuk bekerjasama dalam berfikir dan memahami kata-katanya, mencoba meresapinya, memasukkannya dalam kalbu dan terkadang mampu menyadarkanku akan cinta kepadaMu.

Ialah film dari kisah Rabiah Al Adawiyah yang membuatku terjaga sampai setengah 1 dini hari tanpa beranjak pergi dan seringkali kata-katanya membuatku terjatuh dalam kesadaran akan hakikat hidup dan cinta. Rabiah adalah seorang sufi wanita pertama di dunia yang terlahir dari keluarga yang sederhana, tidak mempunyai banyak harta. Seorang yang dahulu ketika akan dilahirkan oleh ibunya, ayahnya mengharapkan bayi yang lahir itu adalah laki-laki agar nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi kehidupan keluarganya. Namun manusia hanya bisa berharap saja, Tuhanlah yang berkehendak semuanya. Terlahirlah anak perempuan,yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan menjadi seorang anak yang perjalanan hidupnya akan menjadi sejarah yang sangat penting. Adalah Attar salah seorang sufi yang bertutur tentang Rabiah, bahwa rabiah adalah “Maria kedua dan tanpa noda”.  Itulah sepenggal biografi Rabiah yang aku ketahui, sempat memang aku membaca lembaran-lembaran dari buku mengenai biografi rabiah dan perjalanan hidupnya.

Adapun aku menonton filmnya karna timbul rasa penasaranku mengenai gambaran kehidupan Rabiah versi film, yang tidak harus aku berimajinasi terlebih dahulu ketika membaca buku, setidaknya aku bisa melihat dan merasakan gambaran kehidupannya tersebut. Namun setelah menonton film ini imajinasiku tentang Rabiah menembus batas-batas masa lalu. Dalam film tersebut memanglah ada beberapa hal yang mungkin sang sutradara membuat skenarionya menjadi sedikit menggelitik. Satu hal, jika hendak menonton film Rabiah ini, jangan memandang sebelah mata tentang film yang mengkisahkan diri Rabiah. Hanya saja memang tidak akan dapati hakikat makna yang sejati tanpa adanya hal-hal yang menonjol sehingga diperlukan pemahaman yang luas dan sungguh perlu rasa yang teramat kuat untuk memperoleh makna cinta didalam kisahnya.

Makna cinta yang ada dalam diri Rabiah adalah cinta kepada Sang Pencipta, rasa cinta dalam diri Rabiah telah membuatku tersadar akan arti hakikat cinta dan arti kehidupan.

Umur kita musim seminya pendek
Kemaraunya panjang
Celakalah kita
Sungguh maut lebih baik daripada tipuan dunia
Itulah yang benar dan menangis untuk mentertawakan kita
Dunia tertawa membuat kita menangis
Aku takut akan hari esok

Kita itu hidup didunia ini sebentar saja, sekadar “mung mampir ngombe” dalam bahasa jawanya. Dan kita ada karena diADAkan oleh Tuhan, melalui cintaNya, tanpa cinta Tuhan yang merambat ke alam semesta bisa saja kita tidak ada, sehingga yang harus kita persembahkan kepada Tuhan Sang Pencipta Alam adalah cinta kepadaNya pula sebagai wujud penghambaan kita kepadaNya. Begitupun dalam diri Rabiah ia penuhkan kalbunya dengan cintaNya, tidak ada cinta lain yang mampu menggantikan cinta kepadaNya dalam diri rabiah. Sedangkan kita, bisakah memenuhi kalbu kita hanya untukNya? Ya Tuhan, hamba mohon ampun atas semua makhlukMu terutama diriku yang hina ini yang terkadang lalai akan cinta yang seharusnya tertuju padaMu semata.

Sesudah hidup berakhir bagaimana aku menghadapNya?
Bagaimana dengan dosa-dosaku?
Ingin kutanam mukaku dan berteriak
Tuhanku
Penolongku
Aku malu dosa-dosaku
Ampuni dosa-dosaku itu, wahai Yang Maha Pengampun

Rabiah pernah menjadi budak di kota basrah, kemudian kehidupan Rabiah terlepas menjadi budak adalah bercinta sepenuhnya dengan Tuhan tanpa lagi menjadi budak untuk melayani tuannya, Rabiah lantas berdiam didalam sebuah rumah sederhana tanpa harta dan sebatang kara serta jauh dari aktifitas dunia. Namun Rabiah tidak menghalangi jika ada orang yang ingin bertamu dan hanya tubuhnya lah yang menjamu tamu, jiwanya tidak lepas dari cinta Tuhan sehingga tidak ada ruang untuk makhluk ciptaanNya.

Rabiah memang seringkali mengungkapkan bentuk cintanya dalam sebuah syair  dan syair-syairnya sarat akan makna jika tercerna oleh kita memang akan kena dihati. Seringkali akupun mendapati air mataku bercucuran keluar, karena terenyuh akan syairnya, syair yang begitu indah nan syahdu yang penuh akan cinta. berikut adalah beberapa syair milik Rabiah sebagai ungkapan cinta Rabiah Kepada Tuhan.

Wahai kekasihku
Harapan hatiku
Kumohon ridhaMu
Jiwa ragaku untukMu kekasihku
Harapanku
Aku cinta padaMu
Jangan jauhi aku
Jangan tinggalkan aku
Aku tak cinta selain Engkau wahai kekasihku

Kekasihku
Bintang-bintang bersinar
Orang-orang sudah tidur
Kaum pecinta berpasang-pasangan
Kini aku bersamaMu
Kekasih dalam alam yang sunyi ini
Aku menyendiri denganMu
Mohon ridhaMu, kekasih

Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Jika keadaanku ini diridhai Engkau
Maka tambahkanlah yang ada
Dan jika tidak diridhoi
Berikanlah aku pertanda RidhoMu

Kukenal cinta
Sejak ku kenal cintaMu kututupi hati terhadap cinta lain
Kupanggil Engkau tanpa melihatMu
Karena engkau melihat semuaNya

Okey, sekian dulu yang kawan. Terimaksih sudah mampir membaca :) barangkali kau menemukan yang lebih dari diri Rabiah yang tidak aku ketahui, jangan sungkan untuk bercerita di komentar atau ketika bertemu langsung. Aku akan menjadi pendengar setia tiap kali kau akan bercerita. Percayalah

link film, jika hendak menonton : Film kisah wali Allah Rabiatul Al-Adawiyah