Minggu, 01 April 2018

Review "Film kisah wali Allah Rabiah Al - Adawiyah"

Seperti yang sudah aku janjikan kala itu kepadamu kawan, (mungkin hanya beberapa yang mengetahuinya)

Malam sudah hampir larut dan sunyi kian menyeru, aku masih saja tidak berfikir untuk memenggal sebuah film yang sedang ku tonton. Biarlah mata ini sudah kantuk, tapi tidak dengan jiwaku yang sedang menghayati cinta didalam kisahnya, film ini memang sudah membuatku hanyut sampai larut malam untuk mengikuti alurnya. Tersadar aku pada menit terakhir ternyata aku belum mampu menempatkan kesempurnaan menonton film ini layaknya menonton film di bioskop yang harus menempatkan ketepatan waktunya. Aku menonton film ini tidaklah seperti di bioskop, yang ada ialah aku memperpanjang jangka waktuku dalam menonton. Film ini disajikan kurang lebih 2 jam, sedangkan aku baru terselesaikan 5 jam. Iya 5 jam tanpa beranjak pergi, namun aku selingi dengan "tegukan air" untuk mencerna otak dan jiwaku untuk bekerjasama dalam berfikir dan memahami kata-katanya, mencoba meresapinya, memasukkannya dalam kalbu dan terkadang mampu menyadarkanku akan cinta kepadaMu.

Ialah film dari kisah Rabiah Al Adawiyah yang membuatku terjaga sampai setengah 1 dini hari tanpa beranjak pergi dan seringkali kata-katanya membuatku terjatuh dalam kesadaran akan hakikat hidup dan cinta. Rabiah adalah seorang sufi wanita pertama di dunia yang terlahir dari keluarga yang sederhana, tidak mempunyai banyak harta. Seorang yang dahulu ketika akan dilahirkan oleh ibunya, ayahnya mengharapkan bayi yang lahir itu adalah laki-laki agar nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi kehidupan keluarganya. Namun manusia hanya bisa berharap saja, Tuhanlah yang berkehendak semuanya. Terlahirlah anak perempuan,yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan menjadi seorang anak yang perjalanan hidupnya akan menjadi sejarah yang sangat penting. Adalah Attar salah seorang sufi yang bertutur tentang Rabiah, bahwa rabiah adalah “Maria kedua dan tanpa noda”.  Itulah sepenggal biografi Rabiah yang aku ketahui, sempat memang aku membaca lembaran-lembaran dari buku mengenai biografi rabiah dan perjalanan hidupnya.

Adapun aku menonton filmnya karna timbul rasa penasaranku mengenai gambaran kehidupan Rabiah versi film, yang tidak harus aku berimajinasi terlebih dahulu ketika membaca buku, setidaknya aku bisa melihat dan merasakan gambaran kehidupannya tersebut. Namun setelah menonton film ini imajinasiku tentang Rabiah menembus batas-batas masa lalu. Dalam film tersebut memanglah ada beberapa hal yang mungkin sang sutradara membuat skenarionya menjadi sedikit menggelitik. Satu hal, jika hendak menonton film Rabiah ini, jangan memandang sebelah mata tentang film yang mengkisahkan diri Rabiah. Hanya saja memang tidak akan dapati hakikat makna yang sejati tanpa adanya hal-hal yang menonjol sehingga diperlukan pemahaman yang luas dan sungguh perlu rasa yang teramat kuat untuk memperoleh makna cinta didalam kisahnya.

Makna cinta yang ada dalam diri Rabiah adalah cinta kepada Sang Pencipta, rasa cinta dalam diri Rabiah telah membuatku tersadar akan arti hakikat cinta dan arti kehidupan.

Umur kita musim seminya pendek
Kemaraunya panjang
Celakalah kita
Sungguh maut lebih baik daripada tipuan dunia
Itulah yang benar dan menangis untuk mentertawakan kita
Dunia tertawa membuat kita menangis
Aku takut akan hari esok

Kita itu hidup didunia ini sebentar saja, sekadar “mung mampir ngombe” dalam bahasa jawanya. Dan kita ada karena diADAkan oleh Tuhan, melalui cintaNya, tanpa cinta Tuhan yang merambat ke alam semesta bisa saja kita tidak ada, sehingga yang harus kita persembahkan kepada Tuhan Sang Pencipta Alam adalah cinta kepadaNya pula sebagai wujud penghambaan kita kepadaNya. Begitupun dalam diri Rabiah ia penuhkan kalbunya dengan cintaNya, tidak ada cinta lain yang mampu menggantikan cinta kepadaNya dalam diri rabiah. Sedangkan kita, bisakah memenuhi kalbu kita hanya untukNya? Ya Tuhan, hamba mohon ampun atas semua makhlukMu terutama diriku yang hina ini yang terkadang lalai akan cinta yang seharusnya tertuju padaMu semata.

Sesudah hidup berakhir bagaimana aku menghadapNya?
Bagaimana dengan dosa-dosaku?
Ingin kutanam mukaku dan berteriak
Tuhanku
Penolongku
Aku malu dosa-dosaku
Ampuni dosa-dosaku itu, wahai Yang Maha Pengampun

Rabiah pernah menjadi budak di kota basrah, kemudian kehidupan Rabiah terlepas menjadi budak adalah bercinta sepenuhnya dengan Tuhan tanpa lagi menjadi budak untuk melayani tuannya, Rabiah lantas berdiam didalam sebuah rumah sederhana tanpa harta dan sebatang kara serta jauh dari aktifitas dunia. Namun Rabiah tidak menghalangi jika ada orang yang ingin bertamu dan hanya tubuhnya lah yang menjamu tamu, jiwanya tidak lepas dari cinta Tuhan sehingga tidak ada ruang untuk makhluk ciptaanNya.

Rabiah memang seringkali mengungkapkan bentuk cintanya dalam sebuah syair  dan syair-syairnya sarat akan makna jika tercerna oleh kita memang akan kena dihati. Seringkali akupun mendapati air mataku bercucuran keluar, karena terenyuh akan syairnya, syair yang begitu indah nan syahdu yang penuh akan cinta. berikut adalah beberapa syair milik Rabiah sebagai ungkapan cinta Rabiah Kepada Tuhan.

Wahai kekasihku
Harapan hatiku
Kumohon ridhaMu
Jiwa ragaku untukMu kekasihku
Harapanku
Aku cinta padaMu
Jangan jauhi aku
Jangan tinggalkan aku
Aku tak cinta selain Engkau wahai kekasihku

Kekasihku
Bintang-bintang bersinar
Orang-orang sudah tidur
Kaum pecinta berpasang-pasangan
Kini aku bersamaMu
Kekasih dalam alam yang sunyi ini
Aku menyendiri denganMu
Mohon ridhaMu, kekasih

Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Jika keadaanku ini diridhai Engkau
Maka tambahkanlah yang ada
Dan jika tidak diridhoi
Berikanlah aku pertanda RidhoMu

Kukenal cinta
Sejak ku kenal cintaMu kututupi hati terhadap cinta lain
Kupanggil Engkau tanpa melihatMu
Karena engkau melihat semuaNya

Okey, sekian dulu yang kawan. Terimaksih sudah mampir membaca :) barangkali kau menemukan yang lebih dari diri Rabiah yang tidak aku ketahui, jangan sungkan untuk bercerita di komentar atau ketika bertemu langsung. Aku akan menjadi pendengar setia tiap kali kau akan bercerita. Percayalah

link film, jika hendak menonton : Film kisah wali Allah Rabiatul Al-Adawiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar