Seperti yang sudah aku janjikan
kala itu kepadamu kawan, (mungkin hanya beberapa yang mengetahuinya)
Malam sudah hampir larut dan sunyi kian menyeru, aku
masih saja tidak berfikir untuk memenggal sebuah film yang sedang ku tonton. Biarlah
mata ini sudah kantuk, tapi tidak dengan jiwaku yang sedang menghayati cinta didalam
kisahnya, film ini memang sudah membuatku hanyut sampai larut malam untuk mengikuti
alurnya. Tersadar aku pada menit terakhir ternyata aku belum mampu menempatkan kesempurnaan
menonton film ini layaknya menonton film di bioskop yang harus menempatkan ketepatan
waktunya. Aku menonton film ini tidaklah seperti di bioskop, yang ada ialah aku
memperpanjang jangka waktuku dalam menonton. Film ini disajikan kurang lebih 2
jam, sedangkan aku baru terselesaikan 5 jam. Iya 5 jam tanpa beranjak pergi,
namun aku selingi dengan "tegukan air" untuk mencerna otak dan jiwaku untuk bekerjasama dalam berfikir dan memahami
kata-katanya, mencoba meresapinya, memasukkannya dalam kalbu dan terkadang mampu menyadarkanku
akan cinta kepadaMu.
Ialah film dari kisah Rabiah Al Adawiyah yang
membuatku terjaga sampai setengah 1 dini hari tanpa beranjak pergi dan seringkali kata-katanya membuatku terjatuh dalam
kesadaran akan hakikat hidup dan cinta. Rabiah adalah seorang sufi
wanita pertama di dunia yang terlahir dari keluarga yang sederhana, tidak mempunyai banyak harta. Seorang yang dahulu ketika akan dilahirkan oleh ibunya, ayahnya mengharapkan bayi yang lahir itu adalah laki-laki
agar nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi kehidupan keluarganya. Namun manusia hanya bisa berharap saja, Tuhanlah yang berkehendak semuanya. Terlahirlah
anak perempuan,yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan menjadi seorang anak yang perjalanan
hidupnya akan menjadi sejarah yang sangat penting. Adalah Attar salah seorang
sufi yang bertutur tentang Rabiah, bahwa rabiah adalah “Maria kedua dan tanpa
noda”. Itulah sepenggal biografi Rabiah
yang aku ketahui, sempat memang aku membaca lembaran-lembaran dari buku mengenai
biografi rabiah dan perjalanan hidupnya.
Adapun aku menonton filmnya karna timbul rasa penasaranku
mengenai gambaran kehidupan Rabiah versi film, yang tidak harus aku
berimajinasi terlebih dahulu ketika membaca buku, setidaknya aku bisa melihat dan
merasakan gambaran kehidupannya tersebut. Namun setelah menonton film ini
imajinasiku tentang Rabiah menembus batas-batas masa lalu. Dalam film tersebut memanglah ada beberapa hal yang
mungkin sang sutradara membuat skenarionya menjadi sedikit menggelitik. Satu
hal, jika hendak menonton film Rabiah ini, jangan memandang sebelah mata tentang film yang mengkisahkan
diri Rabiah. Hanya saja memang tidak akan dapati hakikat makna yang sejati
tanpa adanya hal-hal yang menonjol sehingga diperlukan pemahaman yang luas dan
sungguh perlu rasa yang teramat kuat untuk memperoleh makna cinta didalam
kisahnya.
Makna cinta yang ada dalam diri Rabiah
adalah cinta kepada Sang Pencipta, rasa cinta dalam diri Rabiah telah membuatku
tersadar akan arti hakikat cinta dan arti kehidupan.
Umur
kita musim seminya pendek
Kemaraunya
panjang
Celakalah
kita
Sungguh
maut lebih baik daripada tipuan dunia
Itulah
yang benar dan menangis untuk mentertawakan kita
Dunia
tertawa membuat kita menangis
Aku takut
akan hari esok
Kita itu hidup didunia ini sebentar
saja, sekadar “mung mampir ngombe” dalam bahasa jawanya. Dan kita ada karena
diADAkan oleh Tuhan, melalui cintaNya, tanpa cinta Tuhan yang merambat ke alam
semesta bisa saja kita tidak ada, sehingga yang harus kita persembahkan kepada
Tuhan Sang Pencipta Alam adalah cinta kepadaNya pula sebagai wujud penghambaan
kita kepadaNya. Begitupun dalam diri Rabiah ia penuhkan kalbunya dengan
cintaNya, tidak ada cinta lain yang mampu menggantikan cinta kepadaNya dalam
diri rabiah. Sedangkan kita, bisakah memenuhi kalbu kita hanya untukNya? Ya
Tuhan, hamba mohon ampun atas semua makhlukMu terutama diriku yang hina ini yang
terkadang lalai akan cinta yang seharusnya tertuju padaMu semata.
Sesudah
hidup berakhir bagaimana aku menghadapNya?
Bagaimana
dengan dosa-dosaku?
Ingin
kutanam mukaku dan berteriak
Tuhanku
Penolongku
Aku malu
dosa-dosaku
Ampuni
dosa-dosaku itu, wahai Yang Maha Pengampun
Rabiah pernah menjadi budak di kota basrah, kemudian kehidupan Rabiah
terlepas menjadi budak adalah bercinta sepenuhnya dengan Tuhan tanpa lagi menjadi budak untuk melayani tuannya, Rabiah lantas berdiam didalam sebuah rumah sederhana tanpa harta dan sebatang kara serta jauh dari aktifitas dunia. Namun Rabiah tidak menghalangi
jika ada orang yang ingin bertamu dan hanya tubuhnya lah yang menjamu tamu,
jiwanya tidak lepas dari cinta Tuhan sehingga tidak ada ruang untuk makhluk
ciptaanNya.
Rabiah memang
seringkali mengungkapkan bentuk cintanya dalam sebuah syair dan syair-syairnya sarat akan makna jika
tercerna oleh kita memang akan kena dihati. Seringkali akupun mendapati air
mataku bercucuran keluar, karena terenyuh akan syairnya, syair yang begitu
indah nan syahdu yang penuh akan cinta. berikut adalah beberapa syair milik Rabiah sebagai ungkapan cinta Rabiah Kepada Tuhan.
Wahai kekasihku
Harapan hatiku
Kumohon ridhaMu
Jiwa ragaku untukMu kekasihku
Harapanku
Aku cinta padaMu
Jangan jauhi aku
Jangan tinggalkan aku
Aku tak cinta selain Engkau wahai kekasihku
Kekasihku
Bintang-bintang bersinar
Orang-orang sudah tidur
Kaum pecinta berpasang-pasangan
Kini aku bersamaMu
Kekasih dalam alam yang sunyi ini
Aku menyendiri denganMu
Mohon ridhaMu, kekasih
Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Jika keadaanku ini diridhai Engkau
Maka tambahkanlah yang ada
Dan jika tidak diridhoi
Berikanlah aku pertanda RidhoMu
Kukenal cinta
Sejak ku kenal cintaMu kututupi hati terhadap cinta lain
Kupanggil Engkau tanpa melihatMu
Karena engkau melihat semuaNya
Okey, sekian dulu yang kawan. Terimaksih sudah mampir membaca :) barangkali kau menemukan yang lebih dari diri Rabiah yang tidak aku ketahui,
jangan sungkan untuk bercerita di komentar atau ketika bertemu langsung. Aku akan
menjadi pendengar setia tiap kali kau akan bercerita. Percayalah
link film, jika hendak menonton : Film kisah wali Allah Rabiatul Al-Adawiyah
Harapan hatiku
Kumohon ridhaMu
Jiwa ragaku untukMu kekasihku
Harapanku
Aku cinta padaMu
Jangan jauhi aku
Jangan tinggalkan aku
Aku tak cinta selain Engkau wahai kekasihku
Bintang-bintang bersinar
Orang-orang sudah tidur
Kaum pecinta berpasang-pasangan
Kini aku bersamaMu
Kekasih dalam alam yang sunyi ini
Aku menyendiri denganMu
Mohon ridhaMu, kekasih
Jika keadaanku ini diridhai Engkau
Maka tambahkanlah yang ada
Dan jika tidak diridhoi
Berikanlah aku pertanda RidhoMu
Sejak ku kenal cintaMu kututupi hati terhadap cinta lain
Kupanggil Engkau tanpa melihatMu
Karena engkau melihat semuaNya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar